Tradisi Mendak Dilakukan Keluarga Pimred Pewarta Tambora -->

Berita Terbaru

Tradisi Mendak Dilakukan Keluarga Pimred Pewarta Tambora

Kamis, 04 Juni 2020, 21:06
Jakarta, Era globalisasi yang semakin lama menggerus khazanah kebudayaan, terutama bidang keagamaan tidak sedikit pun menggoyahkan sebagian besar masyarakat di Jakarta maupun di berbagai daerah di Indonesia.

Salah satunya yakni di Kediaman Pimred Media Pewarta Tambora, Nurhalim tengah mengadakan tradisi mendak, Kamis (4/6/2020). Mereka masih bersemangat dalam nguri-uri (melestarikan) tradisi yang telah diturunkan oleh nenek moyang mereka.


Mendak adalah suatu rangkaian kegiatan pasca kematian dari salah satu anggota keluarga. Rangkaian kegiatan itu diawali dengan acara mitung dina (tujuh hari), matang puluh dina (empat puluh hari), dan nyatus (seratus hari), baru kemudian mendak pertama (satu tahun).

Mendak tidak hanya dilakukan di tahun pertama saja, akan tetapi di tahun keduanya pun dilaksanakan mendak kedua. Lalu di tahun ketiga acara mendak dilaksanakan pada malam hari yang disebut nyewu.


Nyewu dalam bahasa Jawa berarti seribu, yang artinya sudah seribu hari berlalu pasca-kematian.

"Sebenarnya isi dari kegiatan mendak tahun maupun tahlilan lainnya itu sama, yaitu berdoa kepada Allah agar seseorang yang sudah tiada itu diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya dan khusnul khotimah," ungkap salah satu pemuka kampung Ustad Aang Bachtiar.

Ustad Aang Bachtiar yang juga merupakan adik dari Pimred Media Pewarta Tambora menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran para jamaah yang sudah mengikuti acara tahlil dan bacaan surah yasin untuk almarhum.

"Kami mewakili keluarga besar almarhum mengucapkan terima kasih atas kehadiran saudara-saudara dalam acara tradisi mendak almarhum ayahanda kami, semoga amal baiknya diterima Allah SWT," ungkap Ustadz Aang Bachtiar dalam sambutannya.

Esensi lain dari tradisi ini adalah dzikrul maut, yaitu ingat pada kematian, karena setiap orang akan menemuinya entah kapan waktunya.

Diharapkan dari tradisi mendak, masyarakat ingat kematian selalu mengintai, sehingga harus banyak berbuat kebajikan dan meninggalkan kejahatan.

Selain memiliki nilai religius, tradisi ini juga dapat membuat hubungan masyarakat semakin dekat. Biasanya pada acara peringatan mendak itu disajikan makanan yang dibuat sebagai menu hidangan jamaah. (red)

TerPopuler